Ringkasan

  • Reklamasi dilakukan seiring proses penambangan, bukan menunggu tambang selesai beroperasi.
  • Pemulihan ekosistem dan DAS mengutamakan spesies serta keanekaragaman hayati lokal.
  • Keberhasilan diukur dari kualitas pemulihan lingkungan, bukan hanya jumlah hektare yang direvegetasi.

Key figures 2026

288,87 hektare lahan tambang operasional telah direklamasi pada periode 2022-2026.

Rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) seluas 4.140 hektare sedang berlangsung di tujuh lokasi.

1.941 hektare lahan berhasil direhabilitasi dan diserahterimakan kepada pemerintah.

Di sebagian front reklamasi Weda Bay Nickel, lereng bisa mencapai kemiringan 45 derajat, dan hujan turun hingga 3.500 milimeter setahun. Di medan seperti ini, menanam pohon saja tidak cukup, bibitnya bisa hanyut sebelum sempat berakar. Maka sebelum penanaman dimulai, tim lebih dulu mengunci tanahnya: membentangkan geomat dan cocomesh di permukaan lereng, lalu menyemprotkan campuran benih dan mulsa lewat hydroseeding pada bidang terbuka yang curam. 

Langkah itu mencerminkan cara WBN memandang reklamasi secara keseluruhan: bukan kegiatan yang baru dimulai ketika penambangan berakhir, melainkan pekerjaan progresif yang berjalan bersama operasi penambangan. Di Halmahera, pendekatan ini penting justru karena medannya, tanah laterit yang mudah tergerus dan tanah pucuk yang terbatas membuat setiap keterlambatan berujung pada erosi dan hilangnya tanah yang sebenarnya masih bisa dipulihkan. 

Dua Kewajiban, Satu Tujuan

Kerangka pertambangan Indonesia mewajibkan reklamasi dijalankan sepanjang siklus tambang. Di luar itu, Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan Weda Bay Nickel memuat kewajiban merehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di lokasi yang ditetapkan pemerintah. Keduanya berbeda secara hukum, tetapi saling terkait: yang satu memulihkan area yang terganggu langsung oleh penambangan, yang lain mengembalikan tutupan hutan dan fungsi hidrologis di wilayah yang lebih luas. Di antara keduanya, keanekaragaman hayati menjadi pengikat, yakni mengarahkan pemilihan jenis, pemulihan habitat, dan pemantauan.

“Tujuannya bukan sekadar menanami kembali lahan, melainkan memulihkan bentang lahan yang stabil dan berfungsi.” 

Di dalam Tambang

Sepanjang 2022 – semester I tahun 2026, WBN mencatat 255,62 hektare reklamasi operasional. Prosesnya dimulai jauh sebelum penanaman: penataan lahan, penempatan tanah pucuk, pembangunan pengendali air, penimbunan penutup tanah, lalu penanaman pohon, diikuti pemeliharaan dan pemantauan agar tanaman bertahan dan lereng stabil. Pada lereng curam dan tanah laterit yang miskin bahan organik, tim memperkuatnya dengan ameliorasi tanah dan teknik pengendali erosi seperti geomat dan hydroseeding.

Pemilihan jenis tanaman pun tidak asal cepat tumbuh. Program memprioritaskan jenis lokal dan endemik Halmahera, terutama yang menyediakan pakan dan tempat berlindung bagi fauna asli, sehingga keanekaragaman hayati menjadi bagian dari desain reklamasi sejak awal, bukan alur kerja yang terpisah.

Di Luar Tapak Tambang

Pekerjaan serupa berlangsung jauh di luar area operasi. Sebagai bagian dari kewajiban penggunaan kawasan hutan, WBN merehabilitasi daerah aliran sungai seluas 4.140 hektare di tujuh lokasi di lima wilayah Halmahera. Ini pekerjaan bertahun-tahun yang berjalan bertahap: 1.941 hektare telah diserahterimakan kepada pemerintah setelah lolos penilaian.  Sementara sisanya masih menempuh berbagai tahap perawatan, yakni ditanam, dipelihara, dilindungi, dan dievaluasi secara formal sebelum benar-benar bisa berdiri sendiri dan diserahterimakan ke pemerintah.

Diukur dari Hasil, Bukan Luas Lahan

WBN menyadari keberhasilan reklamasi tidak bisa dinilai hanya dari berapa hektare yang ditanami. Yang lebih menentukan adalah apakah lereng benar-benar stabil, erosi terkendali, dan habitat perlahan kembali berfungsi. Karena itu, sejak 2023 pemantauan flora dan fauna dilakukan setiap enam bulan bersama Institut Keanekaragaman Hayati Universitas Khairun, Ternate, di 40 titik resmi di seluruh wilayah Kontrak Karya, bukan untuk sekadar mencatat jenis, melainkan mengikuti trennya dan mengenali apa yang masih perlu diperbaiki.

Langkah berikutnya membawa pekerjaan ini lebih dekat ke masyarakat, lewat rencana persemaian pohon berbasis desa yang memperpendek jarak pasokan bibit ke lapangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Arahnya konsisten: memulihkan lahan secara progresif, melindungi fungsi DAS, memperkuat keanekaragaman hayati, dan terus menyempurnakan cara pelaksanaannya.

FAQ

Apakah reklamasi baru dilakukan setelah penambangan selesai?
Tidak. Reklamasi dilakukan secara progresif bersamaan dengan kegiatan penambangan untuk mengurangi erosi dan menjaga kualitas tanah.

Bagaimana Weda Bay Nickel mencegah erosi pada lereng yang curam?
Weda Bay Nickel mencegah erosi pada lereng curam melalui penerapan geomat, cocomesh, dan hydroseeding sebelum revegetasi dilakukan. Teknik ini membantu menjaga stabilitas lereng yang terpapar curah hujan tinggi.

Apa peran keanekaragaman hayati dalam reklamasi?
Keanekaragaman hayati berperan penting dalam reklamasi dengan mengutamakan spesies lokal dan endemik guna memulihkan habitat serta mendukung kelangsungan hidup satwa liar asli melalui penyediaan sumber pakan dan tempat berlindung.

Bagaimana keberhasilan reklamasi diukur?
Keberhasilan reklamasi diukur melalui stabilitas lahan, pengendalian erosi, dan pemulihan keanekaragaman hayati, bukan sekadar luas area yang direvegetasi.